JIHAD

Jihad fii Sabilillah termasuk tuntutan al-wara’ dan al-bara’ yang paling penting karena ia adalah pemisah antara yang Hak dan Batil, antara Hizbur Rahman dan

Hizbus Syaitan.

Kita sudah maklum bahwa permusuhan antara dua golongan, ialah Hizbur Rahman dan Hizbus Syaitan, merupakan masalah yang sudah mengakar, dan akan berkelanjutan hingga Allah mewariskan bumi dan seisinya. Demikian keadaannya itu karena jalan yang ditempuh masing masing saling berbeda. Dan mustahil keduanya itu akan menjumpai titik temu. Karena Hizbullah hendak menegakkan Kalimatul-Haq dan kekuasaan syariat Islam diatas setiap jengkal bumi, sedangkan Hizbus Syaitan membenci jalan ini, kemudian ia berusaha sekuat tenaga dengan segala cara untuk menyingkirkan dan menghancurkannya.

Dan jika kita simak Sirah Nabi Muhammad saw tentu kita akan mendapatkan bahwa jihad adalah langkah lanjutan dari hijrah Nabawiyyah. Hijrah merupakan titik awal bentuk sikap Al-Wala dan Al-Bara yang nampak dengan nyata sedangkan Jihad merupakan bentuk sikap lanjutannya yang jauh lebih nyata karena jihad merupakan satu-satunya jalan yang benar-benar memisahkan antara Hizbur Rahman dan Hizbus Syaitan. Dan juga didalam Sirah Nabi Muhammad saw kita dapatkan bahwa Rasulullah saw telah mempersiapkan Jihad dalam arti perang sejak menjelang berdirinya Daulah Islamiyyah (Kekuasaan Islam) dan selanjutnya melaksanakan

Jihad untuk mempertahankan dan memperkokoh Daulah Islamiyyah.

Maka dengan adanya Jihad, kedudukan manusia menjadi benar-benar jelas. Apakah ia berada dalam Hizbur Rahman (Pembela tegaknya Syariat Allah) atau dalam barisan Hizbus Syaitan (Penghalang tegaknya Syariat Allah).

I. PENGERTIAN JIHAD

A. Menurut Bahasa

Al-Jihaad adalah Masdar dari fi’il Ruba’iy: Jaahada berdasarkan wazan fi’il yang bermakna Al-Mufaa’alatu min Thorfayin (Saling berbuat dari kedua belah pihak) seperti perkataan Al-Jidal yang bermakna Al-Mujaadalah masdar dari perkataan Jaadal . Dari fi’il Thulathi bagi perkataan Jihad adalah Jahida masdarnya

Al-Jahdu artinya At-Thooqot (kekuatan), dan masdarnya Al-Juhdu artinya Al-Masyaqqot (jerih payah).

Dan didalam Lisanul Arab : dikatakan Al-Jahdu (Al-Jahd) artinya Al-Masyaqqot (jerih payah), dan Al-Juhdu (Al-Juhd) artinya At-Thooqot (kekuatan). Dan dalam

Lisanul Arab juga terdapat perkataan Al-Jihaad maknanya : Istifrooghu maa fiil wus’i wattooqoti min qaulin aw fi’li (Mencurahkan segenap tenaga dan kekuatan baik berupa Ucapan maupun Perbuatan).

Penulis Munjid mengatakan: Jaahada Mujaahadatan wa Jihaadan artinya Badzala wus’ah (Mengerahkan tenaganya) dan asalnya: Badzala kullum minhumaa juhdahu fii daf’i shohibih (Masing-masing diantara keduanya mengerahkan kekuatannya dalam menolak partnernya).

Dan didalam tafsir An-Naisabury : Dan yang shahih sesungguhnya Al-Jihaad adalah Badzlul Majhuudi fii Husuulil Maqshoudi (mengerahkan segala jerih payah untuk mencapai tujuan).

Dari beberapa makna bahasa diatas dapat diperoleh Ta’rif Lughowi yang merupakan hakikat lughowiyyah bagi perkataan Al-Jihaad yaitu: Al-Jihaadu Huwa Istifrooghul Wus’i fiil Mudaafa’ati Bayna Thorofaina Walau Taqdiiroon
“Jihad adalah pengerahan kekuatan yang didalamnya saling tolak menolak antara dua kutub walaupun pada takdirnya (bukan pada zahirnya).”

Yang dimaksud dengan takdirnya ialah Jihadul Ihsan terhadap dirinya, yaitu: bahwa di dalam diri manusia itu ada dua kutub, ketika kedua keinginan yang saling berlawanan bertemu didalam dirinya, maka masing masing berjihad untuk mengalahkan yang lain.

…….bersambung……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s